Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kodok Seychelles Mendengar Lewat Mulut

Awalnya, peneliti mengira bahwa kodok Gardiner Seychelles, salah satu kodok terkecil di dunia, merupakan hewan yang tuli


Kita sudah mengetahui tentang adanya landak yang bisa makan lewat anus dan kecebong yang bisa melihat dengan ekor. Kini, dari temuan terbaru yang cukup mengejutkan seputar penggunaan anggota tubuh, peneliti mendapati bahwa kodok bisa mendengar lewat mulutnya.

Awalnya, peneliti mengira bahwa kodok Gardiner Seychelles, berukuran sebelas milimeter dan merupakan salah satu kodok terkecil di dunia, merupakan hewan yang tuli. Ia tidak memiliki telinga bagian dalam, sebuah komponen pendengaran yang ditemukan di sebagian besar hewan darat.

Telinga bagian dalam sendiri terdiri dari tiga tulang kecil yang disebut dengan ossicle yang menghubungkan gendang telinga dan labirin. Saat gelombang suara mendarat di gendang telinga, ia bergerak maju mundur menyebabkan ossicle bergerak dan mengirimkan sinyal listrik ke otak, yang kemudian mendaftarkan sinyal tersebut sebagai suara.

Sebelumnya, para peneliti sendiri sudah tahu akan adanya spesies kodok yang tidak memiliki telinga bagian dalam namun masih tetap bisa berkuak satu sama lain. Tetapi ini membuat mereka bertanya-tanya, bisakah kodok Gardiner mendengar?

Cara kodok mendengar
Untuk menjawab pertanyaan di atas, sekelompok peneliti memasang loudspeaker di habitat kodok hutan hujan tersebut di kawasan kepulauan Seychelles, di barat Samudra Hindia. Loudspeaker tersebut mengeluarkan suara panggilan kodok. Cukup mengejutkan, kodok jantan loncat mendekat ke loudspeaker dan merespons suara. "Ini mengindikasikan bahwa mereka mendengar suara tersebut," kata Thierry Aubin, pakar bioakustik dari Universite Paris Sud, Prancis.


Berikutnya, peneliti harus mengidentifikasi bagaimana kodok mendengar, dengan kata lain, bagaimana cara gelombang suara bergerak sampai tiba di otak mereka. Untuk itu, para peneliti memeriksa salah satu kodok kecil itu dengan sinar X.

Dari gambar yang didapat, terungkap bahwa sistem pernafasan mereka tidak berkembang dengan baik. Laporan yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini mengindikasikan bahwa paru-paru mereka tidak berkontribusi pada pendengaran.

Kemudian, para peneliti mengubah fokus mereka untuk bereksperimen dengan kepala para kodok. Dengan membuat berbagai simulasi 3D terkait bagaimana suara bergerak di dalam kepala kodok, peneliti menemukan bahwa tulang-tulang di mulut mereka bertindak seperti amplifier bagi gelombang suara.

Lebih lanjut, sinar X menunjukkan bahwa suara bergerak dari mulut ke labirin berkat adanya adaptasi evolusioner. Kodok memiliki lapisan jaringan yang lebih sedikit dna tipis di antara mulut dan labirin. "Sangat menarik karena ini belum pernah ditemukan sebelumnya," kata Aubin.

Para peneliti juga menduga bahwa strategi pendengaran kodok yang aneh bisa terjadi karena mereka sudah lama terisolasi. Sekitar 47 sampai 65 juta tahun lalu, Seychelles terpisah dari benua raksasa Gondwana, satu dari dua daratan raksasa yang membentuk benua raksasa Pangea.

Ini membuat kodok-kodok tersebut terpisah dari spesies lainnya. Artinya, mendengar lewat mulut bisa jadi merupakan peninggalan dari bentuk kehidupan purba.

(Christine Dell’Amore)

sumber: http://nationalgeographic.co.id/